Juraij adalah seorang ahli ibadah yang sebelumnya adalah seorang pedagang, kemudian terpanggil untuk ber-uzlah dari manusia. Suatu ketika, saat Juarij sedang melaksanakan ibadah shalat sunnah, tiba-tiba ibunya memanggil "Wahai Juraij.". Mendengar panggilan tersebut,Juraij berkata dalam hati, Wahai, Rabbku, ,manakah yang harus aku dahulukan, meneruskan shalat atau memenuhi panggilan ibuku? Dalam keadaan semacam itu, akhirnya Juraij lebih memilih meneruskan shalatnya.
Di sisi lain, hati sang ibu diliputi oleh rasa kecewa lantaran panggilannya tidak menuai jawaban , sehingga ia pun pergi. Pada hari berikutnya, kejadian serupa kembali terjadi, hingga terulang ke tiga kalinya. Lantaran tidak kuat menahan rasa kecewa yang mengakar dalam hati, ibunya Juraij berdoa kepada Allah Swt. " Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij hingga ia melihat wanita tunasusila."
Pada saat bersamaan,Bani Israil yang menjadi saksi ketaatan Juraij dalam persoalan ibadah diam-diam menaruh rasa iri dan dengki. Tidak jarang, dalam setiap percakapan, mereka selalu membawa-bawa Juraij serta persoalan ketekunan dalam beribadah. Digerakan oleh rasa iri dan dengki yang mengakar dalam hati mereka, pada akhirnya mereka berinidiatif untuk mecelakakan Juraij. Kebetulan, saat itu juga terdapat seorang wanita tunasusila yang kecantikanya melampui perempuan-perempuan sebayanya.
Singkat cerita, wanita itu ikut nimbrung dalam kerumunan orang-orang yang sedang meperbincangkan ketekunan Juraij dalam hal ibadah. Saat itu, ia berkata kepada mereka, "Jika kalian menghendaki, aku akan menbuat fitnah untuk mencemarkan nama baik Juriaj."
Selang beberapa saat setelah perbincangan tersebut, si wanita mendatangi Juraij yang sedang khusyuk dalam menjalankan ibadahnya. Ia mengeluarkan beragam jurus rayuan untuk menggoda Juraij. Sayangnya, semua jurus yang ia keluarkan tidak satu pun mampu membuat Juraij tergoda. Bahkan, saat itu, Juraij memilih terus melanjutkan ibadahnya tanpa menggubris keberadaan wanita yang bersikeras menggoda dirinya.
Wanita itu kemudian pergi dengan rasa kecewa. Akan tertapi, bukan berarti ia menyerah untuk menjerumuskan Juraij dalam lingkaran fitnah yang ia persiapkan. Saat wanita itu berlalu meninggalkan Juriaj, datanglah seorang penggembala yang berteduh tak jauh dari tempat Juraij menunaikan ibadahnya. Singkat cerita, si wanita pun berzina dengan penggembala tersebut, hingga ia hamil.
Ketika sang wanita melahirkan, orang-orang Bani Israil mulai ramai mepertanyakan ayah bayi tersebut. mendapati pertanyaan semacam itu, si wanita kembali mengeluarkan jurus yang sebelumnya sudah ia persiapkan.
Dengan nada sedikit memelas, ia mengatakan bahwa ayah dari bayinya adalah Juraij. Sontak orang-orang yang mendengar ucapan itu kaget. Tanpa banyak bicara maupum musyawarah, mereka mendatangi Juraij, lalu memaksa keluar dari temat ibadahnya. Setelah itu, mereka beramai-ramai memukuli Juraij sembari mencacinya dengan kata-kata kotor. Bahkan, tempat ibadah yang biasa ia tempati telah dirobohka oleh mereka. Sementara Juraij yang tidak paham atas sebab musabab mereka melakukan hal yang begitu kejam kepada dirinya, bertanya, "Ada apa ini, mengapa kalian meperlakukan aku seperti ini?"
Mendapati pertanyaan semacam itu, dengan berapi-api, mereka pun menjawab, "Engkau telah berzina dengan wanita ini, hingga melahirkan seorang bayi!"
Mendapati jawaban seperti itu, Juraij kemudian kembali bertanya, "Dimana sekarang bayi itu?"
Mereka pun menghadirkan bayi tersebut sebagai bukti atas kebenaran yang sudah mereka katakan.
Setelah Juraij sejenak melihat bayi tersebut, kemudian ia berkata, "Berikan aku kesempatan untuk mengerjakan shalat."
Seusai mengucapkan kalimat tersebut, kemudian Juraij melaksanakan shalat. setelah melaksanakan shalat, ia beranjak menghampiri bayi tersebut, "Wahai bayi siapakan ayahmu?" tanya Juraij seraya menyentuh perut bayi tersebut.
Dengan kuasa Allah Swt, bayi yang baru lahir itu bisa bicara dengan pasih, lalu memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Juraij.
"Ayahku adalah seorang penggembala." jawabnya.
Serta-merta orang-orang yang berkumpul saat itu berhamburan memeluk Juraij dan menyatakan penyesalan.Mereka meminta maaf denga penuh kesungguhan kepada Juraij.
"Kami akan bangun kembali kembali tempat ibadahmu menggunakan emas!" Ucap mereka sebagai tanda penyesalan yng sangat mendalam.
Mendengar hal itu, Juraij kemudian menimpali, "jangan! cukuplah dari tanah sebagaimana semula."
Setelah kejadian tersebut, mereka membangun kembalai tempat ibadah Juraij sesuai dengan permintaanta, yaitu dengan bahan dari tanah.
sumber : buku berkah-berkah tabungan amal shalih penulis Zen aAbdulrahman
Pada saat bersamaan,Bani Israil yang menjadi saksi ketaatan Juraij dalam persoalan ibadah diam-diam menaruh rasa iri dan dengki. Tidak jarang, dalam setiap percakapan, mereka selalu membawa-bawa Juraij serta persoalan ketekunan dalam beribadah. Digerakan oleh rasa iri dan dengki yang mengakar dalam hati mereka, pada akhirnya mereka berinidiatif untuk mecelakakan Juraij. Kebetulan, saat itu juga terdapat seorang wanita tunasusila yang kecantikanya melampui perempuan-perempuan sebayanya.
Singkat cerita, wanita itu ikut nimbrung dalam kerumunan orang-orang yang sedang meperbincangkan ketekunan Juraij dalam hal ibadah. Saat itu, ia berkata kepada mereka, "Jika kalian menghendaki, aku akan menbuat fitnah untuk mencemarkan nama baik Juriaj."
Selang beberapa saat setelah perbincangan tersebut, si wanita mendatangi Juraij yang sedang khusyuk dalam menjalankan ibadahnya. Ia mengeluarkan beragam jurus rayuan untuk menggoda Juraij. Sayangnya, semua jurus yang ia keluarkan tidak satu pun mampu membuat Juraij tergoda. Bahkan, saat itu, Juraij memilih terus melanjutkan ibadahnya tanpa menggubris keberadaan wanita yang bersikeras menggoda dirinya.
Wanita itu kemudian pergi dengan rasa kecewa. Akan tertapi, bukan berarti ia menyerah untuk menjerumuskan Juraij dalam lingkaran fitnah yang ia persiapkan. Saat wanita itu berlalu meninggalkan Juriaj, datanglah seorang penggembala yang berteduh tak jauh dari tempat Juraij menunaikan ibadahnya. Singkat cerita, si wanita pun berzina dengan penggembala tersebut, hingga ia hamil.
Ketika sang wanita melahirkan, orang-orang Bani Israil mulai ramai mepertanyakan ayah bayi tersebut. mendapati pertanyaan semacam itu, si wanita kembali mengeluarkan jurus yang sebelumnya sudah ia persiapkan.
Dengan nada sedikit memelas, ia mengatakan bahwa ayah dari bayinya adalah Juraij. Sontak orang-orang yang mendengar ucapan itu kaget. Tanpa banyak bicara maupum musyawarah, mereka mendatangi Juraij, lalu memaksa keluar dari temat ibadahnya. Setelah itu, mereka beramai-ramai memukuli Juraij sembari mencacinya dengan kata-kata kotor. Bahkan, tempat ibadah yang biasa ia tempati telah dirobohka oleh mereka. Sementara Juraij yang tidak paham atas sebab musabab mereka melakukan hal yang begitu kejam kepada dirinya, bertanya, "Ada apa ini, mengapa kalian meperlakukan aku seperti ini?"
Mendapati pertanyaan semacam itu, dengan berapi-api, mereka pun menjawab, "Engkau telah berzina dengan wanita ini, hingga melahirkan seorang bayi!"
Mendapati jawaban seperti itu, Juraij kemudian kembali bertanya, "Dimana sekarang bayi itu?"
Mereka pun menghadirkan bayi tersebut sebagai bukti atas kebenaran yang sudah mereka katakan.
Setelah Juraij sejenak melihat bayi tersebut, kemudian ia berkata, "Berikan aku kesempatan untuk mengerjakan shalat."
Seusai mengucapkan kalimat tersebut, kemudian Juraij melaksanakan shalat. setelah melaksanakan shalat, ia beranjak menghampiri bayi tersebut, "Wahai bayi siapakan ayahmu?" tanya Juraij seraya menyentuh perut bayi tersebut.
Dengan kuasa Allah Swt, bayi yang baru lahir itu bisa bicara dengan pasih, lalu memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Juraij.
"Ayahku adalah seorang penggembala." jawabnya.
Serta-merta orang-orang yang berkumpul saat itu berhamburan memeluk Juraij dan menyatakan penyesalan.Mereka meminta maaf denga penuh kesungguhan kepada Juraij.
"Kami akan bangun kembali kembali tempat ibadahmu menggunakan emas!" Ucap mereka sebagai tanda penyesalan yng sangat mendalam.
Mendengar hal itu, Juraij kemudian menimpali, "jangan! cukuplah dari tanah sebagaimana semula."
Setelah kejadian tersebut, mereka membangun kembalai tempat ibadah Juraij sesuai dengan permintaanta, yaitu dengan bahan dari tanah.
sumber : buku berkah-berkah tabungan amal shalih penulis Zen aAbdulrahman