Rabu, 25 April 2018

Setan Mengoda Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Dikisahkan bahwa suatu hari Syekh dan para pengikutnya berjalan kaki dipadang pasir. Saat itu bulan Ramadan dan padang pasir benar-benar panas. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menuturkan:
Aku merasa sangat lelah dan dahaga. Para pengikutku berjalan di depanku. Tiba-tiba sekumpulan awan muncul di atas kepala, seperti payung yang melindungi kami dari terik matahari. Di depan kami muncul sebuah mata air yang jernih dan sebatang pohon kurma sarat dengan buah yang telah masak. Lalu, muncullah cahaya yang lebih terang dari matahari. Dari arah sinar itu terdengar suara, " Hai umat Abdul Qadir, Akulah Tuhanmu! Makan dan minumlah atas orang lain!"
Para pengikutku, yang berada di depanku, berlarian menuju mata air dan pohon kurma itu. Aku berteriak menghentikan mereka. Kutantang sinar itu seraya berteriak,"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk!"


Seketika, awan, cahaya, mata air, ddan pohon kurma itu lenyap. Setan itu berdiri di depan kami dengan rupa yang sangat buruk. Ia bertanya, "Bagaimana kau mengenaliku?" Kukatakan kepada setan yang terkutuk yang telah diusir dari rahmat Allah itu bahwa firman Allah bukalah suara ynag dapat di dengar telinga. Selain itu, aku tahu bahwa hukum Allah bersifat tetap dan berlaku atas semua orang. Dia takkan mengubahnya, atau menghalalkan ynag haram bagi sekelompok orang yang disukai-Nya.

Mndengar ucapanku, setan menggoda agar aku menjadi angkuh, "Hai Abdul Qadir," katanya, "Aku telah memperdaya tujuh puluh nabi dengan muslihat ini. Sungguh ilmumu sangat tinggi daripada para nabi!" Kemudian setan itu menunujuk ke arah pengikutku dan berkata, "Hanya sebanyak inikah pengikutmu? Seharusnya seluruh dunia menjadi pengikutmu karena kau laksana nabi,"

Syekh berkata, "Aku berlindung darimu kepada Allah Yang Maha Mendengar lagiMaha Mengetahui. Bukan ilmu atau kebijaksanaanku yang dapat menyelamatku darimu, melainkan kasih sayang Allah."

Syeh abdul Qadir memandang bahawa segala sesuatu berasal dari Allah. Ia melakukan segala sesuatu hanya karena Allah, dan tidak menisbatkan sesuatu pun kepada makhluk, termasuk kepada dirinya sendiri. Ia selalu mengerjakan apa yang dikatakannya.Ia anggap sma, baik pujian atau cercaan, manfaat atau mudarat. Ilmunya luas dan kebijaksanaanya tinggi. Baginya, orang berilmu yang tak mengamalkan ilmunya laksana keledai yang membawa buku.

Sumber dari buku : Secret of the Secrets ( sirr al asrar)

Jumat, 20 April 2018

Shuhaib Ibnu Sinan memilih Allah Daripada Harta

Tatkala Rasulullah memerintahkan kepada pengikutnya untuk berhijrah ke ranah Yatsrib (Bumi Madinah ) ibnu Sinan menyambutnya sepenuh hati seruan Rasulullah tersebut. Padahal saat itu, ia dikenal sebagai saudagar sukses dan berlimpah harta, setelah sekian tahun bekerja keras menjalankan perniagaanya. Meskipun demikian, Shuhaib rela meninggalkan harta kepemilikannya. Ia lebih memilih Allah daripada harta kekayaan yang telah ia kumpulkan dengan kerja keras bertahun-tahun.

Shuhaib bahkan ingin menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut, disamping Rasulullah dan Abu Bakar. Tetapi, orang-orang Quraisy telah mengatur strategi licik untuk menghadang hijrah Rasulullah. Shuhaib terjbak dalam salah satu perangkap mereka, hingga terhalang untuk hijrah menemani Rasulullah dan Abu Bakar, sementara itu Rasulullah dengan sahabatnya berhasil meloloskan diri atas berkah kasih pertolongan Allah.

Shuhaib berusaha menghidar daari jebakan dan agitasi para Quraisy dengan jalan bersilat lidah, hingga ketika mereka lengah ia naik ke punggung untanya, lau dipacunya hewan itu dengan sekencang-kencangnya menuju sahara luas. Tetapi para punggawa Quraisy mengirim pemburu-pemburu mereka untuk menyusulnya dan usaha mereka berhasil menghadang laju hijrah Shuhaib.

Tatkala berhadap- hadapan dengan para kafir itu, dengan lantang Shuhaib berkata "Wahai orang-orang Quraisy! Kalian semua tahu bahwa aku adalah ahli panah yang handal. Demi Allah, kalian semua takkan berhasil mendekati diriku, jika kau lepaskan semua anak panah yang berada dikantong ini. Aku juga siap mengunakan pedangku untuk menebas kalian, sampai senjata ditanganku habis semua! Ayo majulah ek sini kalau kalian ingin ingin tewas! Tetapi kalau kalian setuju, aku akan tunjukkan tempat penyimpanan harta bendaku, deengan satu syarat, kalian membiarkan aku pergi ke Yastrib.!"

Ternyata tawaran Shuhaib diterima oleh kafir Quraisy, mereka tergiur dengan kekayaan Shuhaib yang berlimpah. Mereka dengan congkak berkata "Memang seharusnya seperti itu, bukankah dahulu waktu kamu datang ke kota kami, kmu adalah seorang ynag miskin. Sekarang hartamu menjadi banyak karena berada ditengah-tengah kami. Dan kamu hendak pergi dari kami dengan semua haratmu!"

Shuhaib kemudian menunjukkan tempat persembunyian hartanya., hingga akhirnya para kafir Quraisy membiarkannya pergi, sementara itu mereka kembali ke Makkah. Dan yang menakjubkan dari semua itu, para kafir seperti kerbau dicokok hidungnya, mereka mempercayai ucapanShuhaib tanpa bimbang atau bersikap waspada, bahwa Shuhaib pandai memanah dan memainkan pedang, hingga mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan meminta agar berucap sumpah.

Lebih menakjubkan lagi, Shuhaib rela menyerahkan semua hartanya yang dikumpulkan bertahun-tahun hasil kerja kerasnya., demi bisa berhijrah mengikuti Rasulullah dan Shuhaib bisa melanjutkan lagi perjalanan hijrahnya seorang diri tetapi penuh kebahagiaan, meski harus mengorbankan semua hartanya hingga berhasil menyusul Rasulullah di Quba. Shuhaib lebih memilih Allah daripada harta kekayaanya.

Sesaat sebelum Shuhaib tiba di ranah Madinah, kala itu Rasulullah sedang duduk dikelilingi oleh beberapa shabatnya, ketika mendengar berita kedatangan Shuhaib. Rasulullah  berkata penuh gembira. " Beruntung perdagangamu, hai Abu Yahya! Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya!". Dan saat itulah turun wahyu dari Allah. "Dan di antara manusia ada yang sedia menebus dirinya demi mengharapkan keridhaan Allah, dan Allah Maha penyantun terhadap hamba-hambaNya!" (Qs al Baqarah 2 : 207 )

Hadits Riwayat Imam Tirmidzi
sumber : buku 33 Rahasia Membuka Pintu Rezeki penulis Abu Umar Hasyim

Sabtu, 14 April 2018

Kisah Nenek yang dermawan

Kisah ini datang dari Abul Hasn Mandani. Beliau mengatakan bahwa saat Hasan, Husein, dan Abdullah bin Ja'far sedang melakukan sebuah perjalan guna menunaikan ibadah haji di Mekah, tiba-tiba saat mereka menempuh perjalanan, unta yang membawa perbekalan mereka telah terpisah.

Mendapati kenyataan itu, akhirnya mereka pun berjalan dalam keadaan lapar dan haus, hingga kemudian mereka bertemu sebuah kemah yang didalamnya terdapat seorang wanita tua. Mereka bertanya kepada wanita tua tersebut, "Apakah engkau memiliki sesuatu yang dapat kami minum?"

Perempuan tua itu pun kemudian memberikan jawaban, "Ya, ada!"
Mendapati jawaban itu, mereka pun bergegas turun dari masing-masing unta yang mereka tumpangi.

"Perahlah susunya kemudian minumlah sedikit-sedikit," ucapnya sembari menunjukan seekor kambing betina yang sangat kurus.

Mereka pun memeras susu kambing betina kepunyaan perempuan tua itu, kemudian meminumnya. Seusai menyelesaikan rasa dahaganya, mereka kemudian bertanya pada perempuan tua itu, Adakah sesuatu yang bisa dimakan?"

Perempuan tua itu pun berkata kepada mereka,"Silahkan salah seorang dari kalian menyembelihnya."
Ia kembali menujuk kambing yang sangat kurus, yang sebelumnya mereka peras susunya.

"Aku akan memasaknya,"sambung perempuan tua tesebut.
Kemudian salah seorang dari mereka menyembelih kambing itu.

Setelah menyelesaikan makan dan minum, pada sore harinya, mereka berpamitan kepada perempuan tua itu guna melanjutkan perjalanan. Salah seorang dari merekaberkata, "Kami adalah orang dari Bani Hasyim. Saat ini, kami sedang melakukan safar untuk ibadah haji. Jika kami selamat sampai ke Madinah, datanglah kepada kami, kami akan membalas kemurahan hatimu."

Seusai mengucapkan sederet kalimat tersebut, merkea pun beranjak pergi melanjutkan perjalanan. Selang beberapa waktu kemudian, Setelah mereka beranjak pergi, suami dari perempuan tua itu datang. Ia pun menceritakan perihal kedatangan Bani Hasyim ke kemahnya, serta kesulitan yang sedang mereka alami kepada suaminya. Mendengar cerita tersebut, si suami kemudian marah dan berkata, "Engkau menyembelih kambing untuk orang asing yang tidak dikenal?"

Perempuan tua itu hanya bisa menjawab, "Mereka dari Bani Hasyim."

Si suami masih marah-marah, sementara perempuan tua tersebut hanya terdiam menyaksikan kemarahan suaminya.

Singkat cerita, suami istri itu kemudian jatuh miskin, hingga kemudian mereka berdua  pergi ke Madinah untuk bekerja sebagai buruh. Sepanjang hari, mereka berdau mengambil kotoran hewan kemudian mengeringkannya. Setelah itu mereka menjualnya. Uang hasil penjualanya mereka gunakan untuk bertahan hidup. Hingga pada suatu hari, tanpa disangka, saat perempuan tua tersebut sedang memungut kotoran hewan, pada saat bersamaan, Hasan sedang duduk depan rumahnya.

Ketika perempuan tua itu menyelesaikan pekerjaanya, kemudian hendak berlalu, Hasan melihatnya. Setelah mengamati beberapa saat, kemudian Hasan menyruh salah seorang hamba sahayanya untuk memanggil perempuan tua itu. Tidak lama kemudian, Perempuan tau itu pun sudah ada di hadapannya.

"Wahai, hamba Allah, apakah engkau mengenalku?" tanya Hasan kepada perempuan tua itu.

Si perempuan tua itu menjawab, "Aku tidak mengenalmu."
"Aku adalah tamu yang pernah meminum susu kambing dan memakan dagingnya," ucap Hasan mencoba mengantarkan ingatan perempuan tua itu saat menolong dirinya beserta Husein dan Abdullah bin Ja'far.

Kemudian perempuan itu kembali berucap, "Demi Allah, engkaukah tamuku saat itu?"
"Ya,akulah tamumu," jawab Hasan m,emberikan kepastian kepada perempuan tua itu.

Setelah berbincang-bincang beberapa hal, kemudian Hasan menyuruh salah seorang hamba sahayanya untuk membelikan seribu ekor kambing untuk diberikan kepada perempuan tua tersebut. Selain itu, ia juga menghadiahkan uang seribu dinar untuknya. Kemudian Hasan menyuruhnya pada salah seorang hamba sahayanya untk membawanya menemui adiknya, Husein.

Sesampainya di hadapan Husein, kemudian ia bertanya kepada perempuan tua itu, "Balasan apa yang diberikan oleh kakakku?"
"Seribu emkor kambing dan seribu dinar," jawabnya dengan penuh kejujuran.
Kemudian Husein memberikan hal yang serupa kepada perempuan tua itu, yaitu seribu ekor kambing dan uang seribu dinar. Setelah menyerahkan semua pemberiannya tersebut, kemudian ia menyuruh hamba sahayanya untuk mengantarkan si perempuan tua tersebut kepada Abdullah bin Ja'far. Tidak jauh berbeda dengan apa yang dillakukan Husein, Abdullah bin Ja'far menyelidiki apa yng diberikan oleh kedua cucu Rasulullah Saw tersewbut kepada perempuan tua yang telah sedemikian tulus pernah memudahkan kesulitan yang sempat mereka alami.

"Jika engkau datang kepadaku terlebih dahulu, aku akan memberimu lebih dari ini," ucapnya sembari menyerahkan uang sebesar dua ribu dinar sekaligus dua ribu ekor kambing.

Diliputi rasa syukur dan bahagia, perempuan tua itu kemudian bergegas menemui suaminya. Setelah menyerahkan uang sebesar empat ribu dinar dan empat ribu ekor kambing, perempuan tua itu berkata kepada suaminya, " Ini sebgai gantinya kambing kita yang lemah itu,"

kisah tersebut diadaptasi dari fadhilahsedekah.blogspot.com
sumber : buku Berkah-Berkah Tabungan Amal Shalih penulis Zen Abdurrahman   

Kamis, 12 April 2018

Kekuatan Dari Sedekah

Rasulullah berkata: Takala Allah Swt menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yaang telah diberikannya, lantas bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya?. Wahai Rabb (Tuhan), adakah sesuatu dalam penciptaanMu yang lebih kuat dari pada gunung? Allah menjawab; Ada, yaitu besi. para malaikat pun kembali bertanya Wahai Rabb, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lerbih kuat dari pada besi?. Allah menjawab; Ada, yaitu Api. Bertanya kembali para malaikat.Wahai Rabb, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daari pada api?. Allah menjawab; Ada, yaitu Air. Para malaikat bertanya. Wahai Rabb, adakah sesuatu penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air?. Allah menjawab; Ada, yaitu Angin. Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, Wahai Rabb adakah sesuatu penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?. Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab; Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.

Sumber : hadits Riwayat Imam Tirmdzi dan Imam Ahmad
kutipan dari buku :33 Rahasia Membuka Pintu rezeki
karangan: Abu umar Hasyim

Kisah Abu Bakar Dan Pengemis Yahudi

Pernah ada seorang pengemis Yahudi buta yang tinggal disudut pasar Madinah, setiap harinya si Yahudi selalu berkata kepada orang yang mendekatinya. "Wahai saudaraku, jangan mendekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."

Namun setiap pagi Muhammad Rasulullah mendatanginya dengan  membawa makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan  pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Muhammad manusia yang ia benci dan musuhi. Rasulullah melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Sepeninggalan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada si pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar as Shiddiq sahabat terdekat Rasulullah berkunjung kepada rumah putrinya yang bernama Aisyah, dan Abu Bakar bertanya kepada putrinya itu. "Anakku, adakah kebiasaan karib kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah menjawab "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunah dan hampir tidak ada satu kebiasaanya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja." Abu Bakar bekata " Apakah itu wahai putriku?" Aisyah menjawab "Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana."

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu, lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil sambil menghardik. "Siapa kamu?" Abu Bakar menjawab "Aku orang yang biasa mendatangi dirimu." Si pengemis Yahudi buta itu berkata culas."Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku."

Si pengemis Yahudi melanjutkan ujarannya. "Apabila ia datang kepadaku tidak usah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini menguyah dan orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku."

Abu Bakar tak kuasa menahan butir-butir air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu. Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad utusan Allah.

Usai mendengarkan penjelasan Abu Bakar, seketika itu juga si pengemis Yahudi itu menangis histeris. Ia lalu berkata "Benarkah demikian? selama ini aku selalu menghinanya, menfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikit pun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Oh, Tuhan ia begitu sangat mulia." Pada detik itu pula si pengemis Yahudi buta itu mengikrarkan Syahadat di hadapan Abu Bakar, dan sejak hari itu menjadi muslim.

sumber: Hadits Riwayat Imam Tirmidzi